Demam Naik Turun di Sore Hari: Waspada Gejala Tipes Mengintai
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica serovar typhi. Penyakit ini ditularkan melalui rute fecal oral dan masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang dengan sanitasi buruk. Secara global, tifoid menginfeksi jutaan orang setiap tahun dan menyebabkan tingginya angka morbiditas pada anak dan remaja. Penyakit ini penting untuk dikenali karena progresinya yang bertahap, komplikasinya yang berat, serta keberadaan carrier kronis yang dapat menularkan kembali ke populasi.
Etiologi
Agen penyebab utama adalah Salmonella enterica serovar typhi, bakteri gram negatif, motil, fakultatif anaerob dari keluarga Enterobacteriaceae. Bakteri memiliki antigen O (somatik), H (flagel), dan Vi (kapsular) yang berperan penting dalam virulensi. Reservoir utamanya adalah manusia, sehingga penularan terjadi antarmanusia melalui makanan dan air yang terkontaminasi.
Epidemiologi
Demam tifoid endemik di Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, Amerika Latin, dan negara-negara dengan sanitasi yang belum optimal. Kelompok usia yang paling banyak terdampak adalah 3–19 tahun. Faktor risiko meliputi sanitasi buruk, konsumsi makanan dari pedagang kaki lima, air minum yang tidak higienis, serta kontak erat dengan carrier.
Patogenesis
Setelah tertelan, bakteri bertahan dari asam lambung dan mencapai ileum terminal. Bakteri memasuki plak peyer, bermultiplikasi dalam makrofag, dan menyebar melalui sistem limfatik ke hati, limpa, sumsum tulang, dan kandung empedu. Bakterimia primer dan sekunder menimbulkan gejala sistemik. Lesi khas berupa hipertrofi dan ulserasi plak peyer, yang dapat menyebabkan perforasi ileum pada fase lanjut.
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi 7-14 hari. Manifestasi klinis berkembang bertahap:
- Minggu pertama: demam meningkat bertahap, malaise, sakit kepala, batuk, gangguan saluran cerna.
- Minggu kedua: demam menetap 39 – 40 C, toksik, distensi abdomen, diare seperti peasoup, gangguan kesadaran (typhoid state), bradikardi relatif, hepatosplenomegali.
- Minggu ketiga: risiko komplikasi meningkat seperti perdarahan usus dan perforasi.
- Minggu keempat: defervescence atau perbaikan bertahap bila tidak terjadi komplikasi.
Rose spots ditemukan pada 20-30 % pasien berupa makulopapular kecil pada dada dan abdomen, muncul dalam crops dan menghilang dalam 2-3 hari.
Komplikasi
Komplikasi berat terjadi pada 5 -10 % pasien:
- Perdarahan usus (2-8%)
- Perforasi ileum (1-4%)
- Peritonitis
- Ensefalopati tifoid
- Hepatitis toksik
- Miokarditis
- Pneumonia, trombositopena, dan DIC
- Relaps (5-10% kasus)
- Carrier kronis (2-5%)
Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan dengan isolasi Salmonella Typhi melalui kultur darah (positif hingga 90% pada minggu pertama), kultur sumsum tulang (paling sensitif), serta kultur tinja atau urine. Widal test memiliki sensitivitas dan spesifisitas rendah sehingga tidak direkomendasikan sebagai alat diagnosis tunggal. Pemeriksaan penunjang lain meliputi LED meningkat, leukopenia, dan peningkatan transaminase.
Tataklasana
Penatalaksanaan meliputi:
- Terapi suportif: istirahat, hidrasi adekuat, koreksi elektrolit, antipiretik.
- Antibiotik:
- Ciprofloxacin 15 mg/kg/hari selama 7 hari
- Bila resisten quinolone: Azithromycin 10 mg/kg/hari selama 7 hari
- Ceftriaxone 75 mg/kg/hari selama 10–14 hari
- Steroid (misal dexamethasone) diberikan pada kasus berat dengan gangguan kesadaran atau tanda sepsis berat karena dapat menurunkan mortalitas.
- Manajemen komplikasi sesuai organ yang terlibat.
Carrier memerlukan terapi eradikasi jangka panjang seperti ciprofloxacin 750 mg dua kali sehari selama 4 minggu atau TMP-SMX 6 minggu.
Pencegahan
Pencegahan meliputi peningkatan sanitasi air, kebersihan makanan, mencuci tangan, dan vaksinasi. Dua jenis vaksin tersedia: vaksin oral hidup dilemahkan (Ty21a) dan vaksin injeksi Vi polysaccharide. Vaksin diberikan pada pelancong ke daerah endemik, tenaga medis, serta populasi berisiko tinggi.
Kesimpulan
Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang penting secara klinis di negara berkembang. Diagnosis harus ditegakkan secara akurat melalui kultur, dan terapi antibiotik harus disesuaikan dengan pola resistensi. Pencegahan melalui vaksinasi dan perbaikan sanitasi merupakan strategi utama untuk menurunkan kejadian tifoid.
Referensi
-
World Health Organization (2023). Typhoid Fever – Key Facts. Geneva: WHO. Available at: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/typhoid [Accessed 30 Jan 2026]
-
Crump, J.A. & Mintz, E.D. (2010). Global Trends in Typhoid and Paratyphoid Fever. Clinical Infectious Diseases, 50(2), pp. 241–246. https://doi.org/10.1086/649541
-
Parry, C.M., Hien, T.T., Dougan, G., White, N.J. & Farrar, J.J. (2002). Typhoid Fever. New England Journal of Medicine, 347(22), pp. 1770–1782. https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra020201 [Accessed 30 Jan 2026]
-
Ochiai, R.L., Acosta, C.J., et al. (2007). A Study of Typhoid Fever in Five Asian Countries: Disease Burden and Implications for Controls. Bulletin of the World Health Organization, 85(4), pp. 260–268. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2636294/
-
Karkey, A., Thanh, D.P., et al. (2013). Intracellular Lifestyle of Salmonella Typhi within Human Macrophages. Nature Communications, 4, Article 1869. https://doi.org/10.1038/ncomms2876
-
Bhutta, Z.A. (2006). Current Concepts in the Diagnosis and Treatment of Typhoid Fever. BMJ, 333(7558), pp.78-82. Available at: https://doi.org/10.1136/bmj.38993.646146.AE [Accessed 30 Jan 2026]
-
Wain, J. & Kidgell, C. (2004). The Emergence of Multidrug-resistant Salmonella Typhi. Trends in Microbiology 12(4).pp.215-220. Available at: https://doi.org/10.1016/j.tim.2004.03.001
-
Centers for Disease Control and Prevention (2024). Typhoid Fever – Clinical Overview. CDC, Atlanta. Available at: https://www.cdc.gov/typhoid-fever/hcp/clinisal-overview.html [Accessed 30 Jan 2026]
-
Levine, M.M. (2018). Typhoid Fever Vaccines. Vaccines (6th ed. ), Elsevier. Available at: https://www.sciencedirect.com [Accessed 30 Jan 2026]
-
British Society for Antimicrobial Chemotherapy (2021). Antimikrobial Guide for Enteric Fever. Available at: https://www.bsac.org.uk/ [Accessed 30 Jan 2026]
Ingin Memastikan Kondisi Kesehatan Anda?
Jika Anda atau keluarga mengalami gejala demam bertahap yang tidak kunjung turun, segera lakukan pemeriksaan medis secara akurat. Penanganan dini dapat mencegah komplikasi yang membahayakan nyawa.
Lihat Jadwal Dokter & Buat Janji Temu Sekarang Pantau jadwal dokter spesialis penyakit dalam dan fasilitas laboratorium kami melalui aplikasi MyCharitas. Dapatkan layanan kesehatan yang cepat dan terpercaya langsung dari ponsel Anda.
Kembali